Jika Anda sudah sering mengikuti laporan pembangunan di pulau terluar, Anda tahu polanya: janji-janji agung selalu menyusul kunjungan pejabat tinggi. Pembangunan desa nelayan bukan sekadar beton atau kapal; ini adalah narasi yang mahal, sekaligus rapuh. Keberhasilan sebuah proyek di Miangas jauh lebih bergantung pada administrasi negara daripada pada kemurahan hati politisi yang singgah.
Kunjungan presiden ke Miangas, dengan segala atraksi media dan semarak politik, memang menghasilkan serangkaian janji ambisius. Mulai dari fasilitas bandara yang diperbarui, hingga pembangunan infrastruktur pendukung nelayan. Semuanya terdokumentasi rapi, seperti capaian sebuah operasi militer yang sukses. Namun, bagi mata yang sudah terbiasa melihat siklus pembangunan di garis depan Nusantara, keindahan narasi tersebut sering kali menutupi pertanyaan mendasar: Siapa yang akan menjalankan, dan siapa yang akan membayar operasionalnya setelah sorot lampu media itu padam?
Rencana pembangunan desa nelayan, seperti yang dilaporkan berbagai media, menyentuh titik kritis infrastruktur, mulai dari fasilitas penyimpanan ikan, peningkatan sarana prasarana, hingga kelistrikan yang harus stabil. Dalam pelaporan ini, kita melihat serangkaian fasilitas yang akan meningkatkan kapasitas ekonomi lokal. Ini adalah paket lengkap yang didesain untuk mengatasi masalah kronis di daerah terpencil: konektivitas, kelistrikan, dan pasar.
Namun, ada jurang pemisah yang lebar antara blueprint perencanaan di Jakarta dan kenyataan di tepi perairan Sulawesi Utara. Sumber daya alam di Miangas sangat melimpah, namun yang seringkali langka adalah human capital yang mampu mengintegrasikan sektor tersebut dengan rantai nilai yang lebih besar.
Saya ingat betul pola ini. Proyek infrastruktur besar datang, menarik banyak tenaga ahli dan material. Ekonomi lokal sempat meroket sesaat. Namun, begitu dana hibah tahap pertama habis, dan konsultan asing bergegas pulang, yang tertinggal hanyalah struktur fisik yang indah, namun sistem operasinya mandek. Misalnya, pembangunan pelabuhan baru itu megah, tapi siapa yang menjamin keberlangsungan logistik dan manajemen kapal setelah proyek selesai?
Inilah titik kritis yang jarang diangkat. Perencanaan selalu berhenti pada Output (output) fisik, melupakan Outcome (hasil nyata) berkelanjutan.
Pemerintah pusat sering kali sangat pandai dalam menciptakan Momentum. Momentum itu dibangun dengan liputan media yang intens, dengan seremoni peletakan batu pertama yang gemilang. Ini menciptakan ilusi keberhasilan jangka panjang. Kita semua kagum dengan fasilitas yang dibangun, tapi kita harus kritis terhadap mekanisme penjaminan operasionalnya.
Jika kita berbicara tentang desa nelayan, keberhasilan utamanya bukanlah sekadar adanya gudang pendingin (cold storage) yang modern, melainkan terbentuknya koperasi nelayan yang kuat secara tata kelola. Koperasi itu harus mandiri secara finansial, harus mampu menangkis praktik monopoli dari tengkulak besar, dan yang paling penting, harus terhubung langsung dengan jaringan pasar modern—bukan hanya menjadi penampung akhir hasil tangkapan.
Di sinilah narasi pembangunan perlu diarahkan. Daripada hanya fokus pada pembangunan aset, fokus seharusnya beralih total pada pembangunan kapasitas kelembagaan. Alih-alih hanya membangun dermaga, bangun pula akademi kelautan lokal yang mampu melatih generasi muda menjadi pengusaha perikanan, bukan sekadar nelayan tangkap.
Menariknya, dalam narasi pembangunan berkelanjutan, ada satu elemen yang sering dianggap remeh: akar budaya dan pengetahuan lokal. Para nelayan di Miangas memiliki peta navigasi, taktik mencari ikan, dan pemahaman siklus pasang surut yang jauh lebih akurat dibandingkan data satelit manapun. Ketika kita terlalu fokus pada model globalisasi dan teknologi barat, kita tanpa sadar telah menggeser pengetahuan lokal yang justru merupakan inti dari ketahanan ekonomi mereka.
Mengintegrasikan teknologi modern dengan kearifan lokal adalah jembatan yang seringkali gagal dibangun oleh pelaksana proyek. Mereka terlalu cepat menempatkan input teknologi (seperti sistem pemantauan digital) tanpa melakukan proses kalibrasi kultural.
Jadi, kesimpulan yang harus kita tarik bukan hanya sekadar ucapan terima kasih atas kunjungan dan janji-janji yang telah disampaikan. Kesimpulan yang lebih mendalam adalah sebuah tuntutan pada sistem: Mari kita pindahkan fokus anggaran dari sekadar membangun struktur fisik yang megah, menjadi membangun sistem resiliensi ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Miangas harus menjadi contoh, bukan hanya contoh keindahan alam yang dikunjungi, tapi contoh ketahanan ekonomi yang benar-benar mampu berdiri tegak tanpa terus menerus menanti kiriman dana dan perhatian dari pusat. Itu baru namanya pembangunan yang paripurna.
Sumber Utama Informasi: Liputan media terkait kunjungan kenegaraan di kawasan perairan Sulawesi Utara. Laporan akademis mengenai tata kelola perikanan dan ekonomi lokal di kawasan timur Indonesia.
